Depan »Berita» UM Sambut CLS 2012 Angkatan Ketiga
UM Sambut CLS 2012 Angkatan Ketiga
19 Juni 2012
oleh:humas
Universitas Negeri Malang (UM), menyambut kedatangan 29 mahasiswa Critical Language Scholarship (CLS) angkatan ketiga pada Senin (18/06/2012). Pembukaan berlangsung di Aula Rektorat gedung A1 lantai 1. Turut hadir pada kesempatan tersebut, Rektor UM, Prof. Dr. H. Suparno, Resident Direktur CLS Malang Peter Suwarno, Ph.D, serta jajaran pejabat universitas.
Prof. Dr. H. Suparno menyampaikan apresiasinya atas kedatangan mahasiswa program CLS. Ia mengharapkan program kerjasama ini akan terus berkembang. "Manfaatkan segala bentuk fasilitas di UM karena kalian telah menjadi bagian dari kampus UM" paparnya.
CLS Malang merupakan salah satu dari 20 program serupa untuk berbagai bahasa di dunia yang didukung dan didanai oleh Bureau of Educational and Cultural Affairs dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS). Bersama dengan program CLS di negara lain, CLS Malang dikelola oleh American Council for International Education, serta diketuai dan dikoordinasi oleh Peter Suwarno, Ph.D, dari Arizona State University bersama dengan Drs. Gatut Susanto dari BIPA Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang (UM).
Bahasa Indonesia diyakini sebagai Critical Language (bahasa kritis), karena untuk jumlah penduduk penutur asli bahasa Indonesia yang begitu besar, sementara jumlah warganegara Amerika yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Indonesia sangatlah kecil. Pada tahun 2010, program CLS diikuti oleh 17 mahasiswa, tahun 2011 sebanyak 25 mahasiswa, dan pada tahun 2012 ini CLS Malang mendapatkan 29 peserta yang terpilih setelah melalui serangkaian seleksi ketat. Dari sekitar 160 pendaftar yang berasal dari berbagai universitas mulai dari program S1 sampai S3 dari seluruh penjuru AS.
Dibandingkan dengan program CLS di negara lain, CLS Malang Indonesia merupakan salah satu yang dianggap paling berhasil sejak 2010. Keberhasilan ini didukung oleh motivasi mahasiswa yang tinggi, kerja keras dan dedikasi peer tutor dan staf pengajar, sistem imersi yaitu mahasiswa dilarang menggunakan bahasa Inggris, jadwal yang ketat dengan 5 jam pengajaran bahasa di dalam kelas per hari, pertemuan dengan tutor sesudah kelas, dan kegiatan kemasyarakatan dan hidup bersama dengan keluarga Indonesia, serta mengenal budaya lokal seperti tari, batik, pencak silat, dan gamelan. Keberhasilan ini juga karena penerapan metode pengajaran komunikatif mutakhir yang menekankan kemampuan berkomunikasi dan bukan hanya pengetahuan bahasa. Diharapkan dari program ini akan terwujud jalinan hubungan yang semakin baik antara dua warga Negara, yang keberhasilannya perlu didukung oleh segenap masyarakat Malang dan Indonesia. (Ren)
Print