Depan »Berita» Penjajakan Kerjasama BPPK-UM
Penjajakan Kerjasama BPPK-UM
21 Januari 2012
oleh:humas
Sebagai bagian dari pelaksanaan program kegiatan tahun 2012, Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Amerika dan Eropa (P3K2 Amerop), Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementrian Luar Negeri RI melakukan penjajakan kerjasama penelitian dengan Universitas Negeri Malang (UM), Jumat (20/01/2012). Agenda berlangsung di Ruang Sidang Rektorat, gedung A1 lantai 2 UM dan dihadiri oleh Pembantu Rektor Bidang Kerjasama, Perencanaan, dan Komunikasi, Drs. H. Isnandar, M.T., Dekan Fakultas Ekonomi (FE), Prof. Dr. Ery Tridjatmika, M.A., M.Si., serta Kepala Pusat P2K2 Amerop, Trie Edi Mulyani dan rombongan.
Kerjasama penelitian tersebut dilakukan untuk mendukung kajian P3K2 Amerop dengan tema "Peningkatan Kerjasama Ekonomi dengan Negara-Negara yang Menjadi Pasar Non Tradisional/Tradisional di Bidang Perdagangan, Investasi dan Pariwisata".
Dalam sambutannya, Drs. H. Isnandar, M.T., menyampaikan apresiasi atas kedatangan dari BPPK Kemenlu RI. Pada kesempatan tersebut, Isnandar menyampaikan historis UM dan berbagai program kerjasama yang telah dilakukan, seperti program kemitraan negara berkembang, kerjasama di bidang pelaksana program dharmasiswa, baik jangka panjang atau pendek.
Sementara Trie Edi Mulyani, memaparkan bahwa program kerjasama ini akan melibatkan para akademisi. "Jika dari pemerintah jalan sendiri akan terjadi kesulitas dan ketidaksesuaian. Oleh karena itu harus berjalan bersama-sama dengan akademisi. Kami mencoba untuk melihat potensi daerah, apa yang bisa digali, yang dapat diekspose untuk mengisi pasar-pasar non tradisional. Karena kita memiliki potensi besar. Oleh karena itu untuk mengaplikasikannya, harus tau peluang investasi, kendala, apa yang harus ditawarkan, dimana tempatnya, dan bagaimana cara memulai membuka peluang ini" tegasnya.
Ditambahkan oleh Edi Mulyani, kerjasama ini akan melibatkan akademisi dalam membuat analisa dan kajian, beberapa wacana tentang kajian kedepan kerjasama ekonomi dengan fokus pada pasar-pasar non tradisional. "Nantinya para akademisi juga akan menjadi moderator, narasumber dalam diskusi yang kami lakukan", jelasnya. (Ren&Sept)
Print